Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di berbagai daerah untuk mengurangi dampak dari cuaca ekstrem serta mengantisipasi bencana hidrometeorologi menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru. Langkah ini diambil untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan masyarakat di daerah-daerah yang berpotensi terkena bencana, terutama pada minggu-minggu akhir tahun.
Dengan adanya OMC, diharapkan dapat mengontrol curah hujan dan risiko yang dapat muncul seperti banjir dan tanah longsor. Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, menekankan pentingnya langkah preventif ini dalam menghadapi cuaca yang tidak menentu.
OMC berfungsi untuk mencegah potensi bencana dengan cara mengubah pola cuaca di daerah tertentu. Upaya ini menjadi semakin kritis ketika perkiraan cuaca menunjukkan adanya kemungkinan hujan lebat dalam waktu dekat, yang bisa membahayakan sejumlah wilayah.
Proses dan Tahapan Operasi Modifikasi Cuaca di Jawa Timur
Proses OMC dimulai dengan analisis data yang mendalam dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Gatot menjelaskan bahwa pelaksanaan OMC ini berlangsung pada tanggal 5 hingga 6 Desember 2025, dengan melibatkan tiga sortie pemakaian bahan semai. Material yang digunakan antara lain 2.000 kalsium oksida dan 1.000 natrium klorida.
Setelah dilakukan evaluasi terhadap situasi cuaca, otoritas setempat akan melaksanakan operasi di daerah yang teridentifikasi berisiko tinggi. Gatot memastikan bahwa strategi yang diterapkan sangat bergantung pada hasil analisis yang akurat dari BMKG.
Pemilihan daerah untuk OMC sangat selektif, dengan mempertimbangkan potensi ancaman dari hujan deras yang dapat mengakibatkan bencana. Beberapa lokasi sudah mendapat prioritas, seperti wilayah utara Surabaya, yang bisa sangat rentan terhadap bencana banjir.
Keberhasilan dan Tantangan Operasi Modifikasi Cuaca
Secara keseluruhan, OMC berhasil menciptakan cuaca yang lebih terkendali dan memungkinkan penurunan curah hujan di berbagai titik yang disasar. Masyarakat di daerah yang menjalani operasi ini merasakan perbedaan yang cukup signifikan dalam kondisi cuaca lokal.
Namun, pelaksanaan OMC tidak selalu berjalan mulus. Ada tantangan yang dihadapi, terutama dalam hal efektivitas metode modifikasi cuaca yang terkadang dapat dipengaruhi oleh banyak faktor. Keberhasilan operasional ini tergantung pada kondisi atmosfer dan sejauh mana teknik yang diterapkan dapat memberikan hasil yang diharapkan.
Selain itu, penting untuk melibatkan kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk BMKG dan dinas terkait, untuk merencanakan dan melaksanakan OMC dengan tepat. Penelitian lebih lanjut dan teknologi baru juga bisa membantu dalam meningkatkan efektivitas OMC ke depan.
Pentingnya Operasi Modifikasi Cuaca untuk Masyarakat
OMC tidak hanya berfungsi untuk mengurangi risiko bencana, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Dengan mengurangi dampak curah hujan yang berlebihan, para petani dapat melaksanakan kegiatan pertanian mereka tanpa terhambat oleh kondisi cuaca yang buruk.
Lebih dari itu, operasi ini juga dapat menjaga stabilitas perekonomian lokal, terutama di daerah yang bergantung pada sektor pertanian. Banjir yang bisa mengakibatkan kerugian materi dan mengganggu produksi mendapatkan perhatian khusus dalam rencana mitigasi ini.
Serta, masyarakat diharapkan lebih siap terhadap ancaman perubahan cuaca ekstrem. Edukasi tentang pentingnya kesiapsiagaan dan mitigasi bencana juga menjadi bagian integral dari program OMC yang dilaksanakan oleh pemerintah provinsi.




