Di tengah fenomena viral yang menyelimuti karya berjudul *Broken Strings*, Aurelie Moeremans mengungkapkan rasa penyesalannya terhadap dampak negatif yang ditimbulkan oleh buku tersebut. Ia merasa prihatin setelah mengetahui bahwa banyak pihak yang menjadi korban perundungan di media sosial akibat spekulasi tentang tokoh-tokoh yang ada dalam bukunya.
Dalam pernyataannya, Aurelie menuturkan bahwa situasi tersebut sama sekali tidak pernah menjadi tujuannya. Ia mengajak publik untuk menghentikan segala bentuk penilaian dan spekulasi yang merugikan orang lain.
Aurelie mengaku baru mengetahui dari berbagai media sosial bahwa ada beberapa individu yang diolok-olok netizen hanya karena menebak-nebak siapa yang diilhami dalam karyanya. “Aku minta maaf banget itu bukan tujuan aku sama sekali,” ujarnya.
Protes Terhadap Penilaian Publik yang Sepihak
Dalam situasi ini, Aurelie Mencari cara untuk mengedukasi para pembaca bahwa publik tidak seharusnya menghakimi seseorang hanya berdasarkan dugaan belaka. Ia menjelaskan bahwa isi bukunya mencerminkan pandangannya sebagai remaja, yang terjadi lebih dari satu dekade lalu.
“Semua yang dituliskan adalah pengalaman pribadiku, dan lebih baik dibaca dengan hati terbuka,” katanya. Hal ini menggambarkan betapa pentingnya sudut pandang seseorang yang tidak seharusnya diputarbalikkan oleh asumsi orang lain.
Aurelie sangat menyadari dampak dari berbagi pengalaman dalam bentuk tulisan, terlebih di era digital. Ia berharap agar karyanya dapat menjadi inspirasi tanpa menimbulkan kepanikan atau konflik baru di masyarakat.
Memahami Arti dari Sebuah Karya Sastra
Melalui *Broken Strings*, Aurelie berupaya memberikan pandangan yang mendalam mengenai perjuangan emosional dan tantangan di masa remaja. Karya ini seharusnya dipandang sebagai sebuah refleksi, bukan sebagai sesuatu yang layak untuk dihakimi atau divonis.
“Karya sastra memberikan ruang untuk merenung dan memahami; oleh karena itu, penting bagi pembaca untuk menangkap esensinya,” ungkapnya. Melalui pendekatan ini, diharapkan pembaca bisa lebih memahami konteks dan tujuan penulisan bukunya.
Aurelie berharap agar publik dapat mendalami setiap kata dan meresapi makna yang terkandung dalam setiap cerita, daripada cepat mengambil kesimpulan yang keliru. Penting bagi setiap pembaca memahami bahwa karya sastra adalah cermin dari pengalaman hidup penulis.
Respon Positif dan Negatif dari Publik
Sejak diluncurkan, *Broken Strings* telah mendapat berbagai respon yang beragam dari masyarakat. Banyak yang membagikan pengalaman mereka sendiri setelah membaca novel ini, sangat menekankan betapa relevannya isu yang diangkat.
Namun, di sisi lain, ada juga yang menanggapinya secara negatif, berfokus pada spekulasi daripada makna yang terkandung. Aurelie merasa hal ini cukup tragis, terutama mengingat tujuan awal penulisannya adalah untuk membuka dialog mengenai isu-isu emosional di kalangan remaja.
Sikap Aurelie yang terbuka terhadap kritik dan saran juga menjadi salah satu aspek yang mengesankan. Ia tidak hanya meminta maaf, tetapi juga mengajak semua pihak untuk berdiskusi secara konstruktif mengenai tematik yang diangkat dalam bukunya.
Harapan untuk Masa Depan dan Karya Karya Selanjutnya
Aurelie berharap bahwa pelajaran yang diambil dari pengalaman ini bisa memperbaiki cara pandang masyarakat terhadap penulis dan karya mereka. Ia berkeinginan untuk terus berkarya dan menjadikan pengalaman ini sebagai pondasi untuk proyek-proyek selanjutnya.
“Setiap karya adalah sebuah perjalanan, dan sesiapa pun yang ikut dalam perjalanan itu saya harapkan dapat belajar sesuatu yang berharga,” ujarnya. Dengan harapan ini, Aurelie ingin terus menginspirasi generasi muda untuk menyampaikan cerita mereka melalui media yang positif.
Buku *Broken Strings* akan selalu menjadi bagian dari perjalanan Aurelie sebagai penulis, dan dia berkomitmen untuk terus berbagi cerita yang dapat menyentuh hati banyak orang tanpa menimbulkan konflik. Melalui karyanya, ia ingin mendorong pembaca untuk mengatasi segala stigma negatif yang sering kali menyelimuti penulis.




