Kementerian Kehutanan sedang berupaya keras dalam mengelola dampak sisa material dari banjir yang melanda Kabupaten Aceh Utara. Dalam bencana ini, sebanyak 769 batang kayu yang memiliki total volume mencapai 1.260,49 meter kubik telah didata untuk dimanfaatkan bagi warga yang terdampak.
Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, Subhan, mengungkapkan bahwa kayu yang hanyut ini dipilah dari berbagai lokasi, termasuk halaman rumah warga. Utamanya, pemanfaatan kayu ini ditujukan untuk mendukung penyediaan hunian bagi para pengungsi yang kehilangan rumah mereka akibat bencana.
Pemilahan kayu sebagai langkah awal ini didorong oleh kebutuhan mendesak untuk membangun hunian sementara (huntara). Selama proses ini, Subhan menegaskan pentingnya peranan kayu yang dipilih dengan hati-hati untuk memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat.
Upaya Kementerian dalam Mengatasi Dampak Banjir di Aceh Utara
Hingga Kamis, penanganan kayu ini melibatkan tidak kurang dari 87 personel dari Kemenhut yang berbasis di Kecamatan Langkahan. Penggunaan alat berat, dengan total 38 unit, juga dikerahkan untuk mempercepat proses evakuasi kayu yang terdampar.
Dukungan ini melibatkan berbagai instansi, termasuk TNI dan Kementerian Pekerjaan Umum, guna memastikan proses pembersihan berjalan dengan efisien. Dengan adanya kolaborasi ini, diharapkan proses pemulihan dapat dilakukan dengan lebih cepat.
Material kayu yang telah dipilah mulai menunjukkan hasil nyata dalam pembangunan huntara. Lembaga Rumah Zakat, misalnya, melaporkan bahwa mereka sedang membangun sembilan unit hunian sementara menggunakan kayu tersebut, di mana salah satu di antaranya sudah selesai.
Manfaat Bagi Masyarakat Terdampak Banjir di Aceh
Dengan fokus pada pemulihan pascabencana, refleksi masyarakat terhadap penggunaan kayu ini cukup positif. Dukungan dari Kemenhut dan lembaga bantuan menjadi sangat penting untuk mengembalikan kehidupan normal bagi warga.
Selain mengurusi material kayu, tim Kemenhut juga mengerahkan 54 personel untuk membersihkan fasilitas pendidikan. Langkah ini bertujuan agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali berjalan dengan segera.
Kementerian juga mengabarkan progres yang signifikan di wilayah Sumatera Utara, dengan pemilahan kayu yang telah mencapai 100 persen di beberapa lokasi. Misalnya, jalur di Garoga I, II, dan III telah rampung sepenuhnya dalam pemilahan kayu pascakejadian bencana.
Pembangunan Hunian Sementara dan Rencana Jangka Panjang
Total kayu yang berhasil diolah pada saat laporan ini ditulis mencapai 793 batang dengan volume sekitar 12,0035 meter kubik. Semua material ini dialokasikan untuk pembangunan huntara di Desa Batu Hula, yang terletak di Kecamatan Batang Toru.
Pemerintah juga tengah melakukan penataan lingkungan dan pembersihan lahan sebagai langkah awal untuk membangun hunian tetap di areal PTPN IV Desa Aek Pining. Dari total rencana pembukaan lahan seluas 15 hektare, saat ini telah terealisasi sekitar 1,028 hektare.
Langkah-langkah tersebut diambil dalam rangka memberikan titik terang bagi warga terdampak, agar mereka dapat segera kembali beraktivitas dan menjalani hidup dengan lebih baik. Penanganan ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk memulihkan kondisi paska bencana yang layak bagi para korban.




