Warga Solo berkumpul di sepanjang jalan yang dilalui arak-arakan kereta Rata Pralaya untuk mengantarkan jenazah Sri Susuhunan Pakubuwono XIII, Raja Keraton Surakarta, dalam prosesi pemakaman yang dipenuhi emosi. Momen ini menjadi saksi bisu dari penghormatan yang tulus masyarakat terhadap sosok pemimpin yang telah penuhi perjalanan hidup mereka dengan sejarah dan tradisi.
Kereta Rata Pralaya bergerak pelan, dikelilingi oleh warga yang merekam momen tersebut melalui ponsel mereka. Suasana haru bercampur rasa kehilangan terlihat jelas di wajah para pelayat yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Raja yang telah memimpin selama bertahun-tahun.
Jenazah Pakubuwono XIII diangkut dari Keraton Surakarta menuju Rumah Dinas Wali Kota Solo di Loji Gandrung. Prosesi ini tidak hanya menjadi peringatan bagi warga, tetapi juga menjadi bagian penting dari tradisi budaya yang telah berlangsung selama beberapa generasi.
Detail Prosesi Pemakaman yang Mengharukan
Saat arak-arakan berlangsung, suasana dipenuhi oleh suara terompet dan sangsakala yang mengiringi perjalanan jenazah. Masyarakat berdiri khidmat, menunjukkan rasa hormat yang mendalam terhadap pemimpin mereka yang telah pergi. Ini adalah momen di mana tradisi dan sejarah bersatu dalam satu irama yang sama.
Setelah prosesi dari Keraton, jenazah akan dipindahkan ke mobil jenazah untuk kemudian dibawa menuju Kompleks Makam Imogiri, DIY. Di tengah perjalanan, kereta tersebut menjadi sorotan tidak hanya untuk warga Solo tetapi juga bagi media yang meliput momen bersejarah ini.
Kompleks Makam Imogiri merupakan tempat peristirahatan bagi para raja dan keluarga besar Dinasti Mataram Islam. Sebagai salah satu situs sejarah yang signifikan, pemakaman ini menyimpan banyak kisah dan legasi dari para penguasa yang pernah memimpin.
Sejarah dan Makna Makam Imogiri
Di Kompleks Makam Imogiri terdapat tiga kelompok besar, mencerminkan warisan budaya yang kaya dan kompleks. Kelompok ini terdiri dari makam Raja-Raja Mataram Islam, Raja-Raja Kasultanan Yogyakarta, dan Raja-Raja Kasunanan Surakarta. Setiap makam menyimpan cerita dan sejarah yang berharga bagi masyarakat.
Kehadiran Pakubuwono XIII di tempat ini akan menambah deretan panjang kisah yang terukir di sanubari masyarakat sebagai pengingat akan jasa-jasa beliau. Dengan meninggalnya beliau di usia 77 tahun pada Minggu, 2 November, menciptakan kekosongan yang mendalam dalam kehidupan sosial dan budaya Solo.
Pemakaman ini menunjukkan betapa pentingnya peran pemimpin dalam menjaga tradisi dan budaya masyarakat. Masyarakat yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir adalah bukti nyata dari rasa cinta dan hormat terhadap sosok yang telah memimpin mereka dengan bijaksana.
Pentingnya Menghormati Proses Pemakaman
Selama prosesi, kepolisian setempat mengambil langkah-langkah untuk memastikan kelancaran arak-arakan. Pengendara diminta untuk menghindari rute-rute yang dilalui rombongan agar tidak terjadi kemacetan yang dapat mengganggu prosesi. Ini adalah bentuk disiplin dan rasa hormat masyarakat terhadap acara tersebut.
Rute perjalanan dari Bantul menuju kompleks makam melibatkan jalan-jalan yang strategis, termasuk Jalan Raya Janti dan lainnya. Ini bukan hanya sekedar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual bagi warga yang merasa kehilangan.
Dengan tiba di Kompleks Makam Imogiri, warga diberikan kesempatan untuk memberikan penghormatan terakhir sebelum pemakaman dilaksanakan. Momen ini sangat berarti, karena masyarakat dapat merasakan kedekatan dengan penguasa yang selama ini mereka agungkan.




