Pada Jumat, 17 Oktober, sebuah insiden tragis melibatkan kelompok kriminal bersenjata di Kabupaten Nabire, Papua. Rombongan Kapolda Papua Tengah, Brigjen Pol Alfred Papare, menjadi target penembakan, yang diduga dilakukan oleh kelompok yang dipimpin Aibon Kogoya. Sebelum menyerang, mereka lebih dulu menembaki kendaraan warga sipil yang lewat, memperlihatkan tingkat kekerasan yang semakin meningkat di wilayah tersebut.
Situasi di Papua terus memanas, dan serangan ini menambah daftar panjang insiden kekerasan yang melibatkan kelompok-kelompok bersenjata. Dampak dari penyerangan semacam ini tidak hanya dirasakan oleh pihak yang terlibat langsung, tetapi juga mempengaruhi masyarakat umum yang hidup dalam ketidakpastian.
Kekhawatiran akan keamanan publik menjadi semakin mendalam, terutama mengingat seringnya kejadian serupa yang terjadi di berbagai daerah di Papua. Penyerangan ini mengundang perhatian luas, menciptakan kebutuhan untuk penanganan yang lebih baik dalam menghadapi kelompok-kelompok bersenjata yang mengganggu stabilitas regional.
Rincian Penembakan yang Menyerang Rombongan Kapolda
Pada hari penembakan, Brigjen Pol Alfred Papare dan rombongannya sedang dalam perjalanan untuk meninjau lokasi penembakan terhadap mobil warga sipil. Insiden tersebut terjadi sekitar pukul 14.40 WIT, ketika rombongan Kapolda tiba-tiba diserang. Para pelaku menembaki mereka dengan sengaja, menciptakan suasana mencekam di lokasi tersebut.
Dari keterangan yang diperoleh, mobil rombongan Kapolda terlihat menjadi sasaran tembakan. Kendaraan itu mendapat banyak lubang bekas tembakan, yang menunjukkan betapa seriusnya serangan ini. Kejadian ini mencerminkan tantangan besar bagi aparat keamanan dalam melindungi pemimpin mereka dan masyarakat.
Penembakan ini juga memicu respon cepat dari kepolisian setempat yang segera memulai penyelidikan dan mencari pelaku. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun situasinya buruk, upaya untuk menangani masalah ini tetap dilakukan dengan sekuat tenaga.
Dampak Penembakan Terhadap Warga Sipil
Insiden tersebut tidak hanya berdampak pada rombongan Kapolda, tetapi juga menyebabkan kenyataan pahit bagi warga sipil. Satu orang dilaporkan tewas akibat luka tembak yang parah, sementara beberapa lainnya mengalami luka-luka serius. Korban, yang semuanya warga setempat, mengalami trauma yang mendalam akibat dari peristiwa tersebut.
Satu dari lima orang yang terkena tembakan tersebut, Masturiyadi (50 tahun), dilaporkan tewas di tempat. Kejadian ini menunjukkan betapa rentannya warga sipil dalam situasi konflik, di mana mereka bisa menjadi korban meski tidak terlibat langsung dalam konflik yang terjadi.
Dari kelompok yang terluka, beberapa korban mengalami luka yang memerlukan perawatan medis intensif. Ini menggambarkan bagaimana ketidakamanan di Papua tidak hanya jadi isu bagi aparat, tetapi juga mengancam kehidupan sehari-hari masyarakat biasa.
Pertanggungjawaban Pihak Berwenang dan Tindakan Keamanan
Usai serangan tersebut, otoritas setempat dengan serius menangani masalah keamanan. Kapolres Nabire, AKBP Samuel D Tatiratu, mengungkapkan bahwa empat anggota kepolisian terkena tembakan saat menjalankan tugas mereka. Upaya pemulihan kondisi para korban dilakukan secepatnya, dengan perawatan medis yang segera diberikan.
Keberadaan dua anggota kepolisian yang masih dirawat di rumah sakit menandakan seriusnya insiden ini. Kombes Gatot Suprasetya dari Irwasda Polda Papua Tengah menjelaskan bahwa mereka telah menjalani operasi dan dalam kondisi stabil setelah menderita luka serius akibat serangan tersebut.
Respon cepat dari pihak kepolisian menunjukkan keseriusan untuk menangani insiden ini. Namun, tantangan yang dihadapi tidaklah mudah; mereka harus berhadapan dengan kelompok bersenjata yang terus mengancam keamanan publik di kawasan itu.




