Sebuah kasus mengejutkan terjadi di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Medan, di mana seorang pegawai berinisial ES (34) terlibat dalam aksi penyelundupan vape yang berisi narkoba. Tindakan nekat ini dipicu oleh iming-iming imbalan sebesar Rp20 juta, sebuah tawaran yang mengubah jalannya hidupnya secara drastis.
Penangkapan ES menandai akhir dari serangkaian tindakan ilegal yang ia lakukan. Ia ditangkap oleh kepolisian saat tengah bersiap-siap untuk menaiki mobilnya, membawa barang bukti yang cukup signifikan yaitu 599 unit vape merek Netflix.
Kasatresnarkoba Polrestabes Medan, AKBP Rafli Yusuf Nugraha, mengungkapkan bahwa penangkapan ini berawal dari laporan masyarakat yang mencurigai aktivitas mencurigakan dari tersangka. Hal ini menunjukkan pentingnya peran masyarakat dalam membantu menanggulangi kejahatan narkoba.
Proses Penangkapan yang Dramatis dan Berisiko
Penangkapan ES dilakukan di area parkir Hotel Red Doorz pada Rabu, 28 Oktober lalu. Tim Satresnarkoba Polrestabes Medan, setelah melakukan penyelidikan, berhasil menindaklanjuti informasi dan mengamankan tersangka sebelum ia sempat melarikan diri.
Aksi penangkapan ini juga mengundang perhatian warga di sekitar lokasi. Mereka ingin mengetahui lebih lanjut mengenai situasi ini, mengingat tersangka adalah pegawai lembaga pemasyarakatan yang seharusnya mematuhi hukum.
“Barang bukti yang kami amankan terdiri dari 2 tas berisi plastik kemasan vape yang mengandung narkoba. Dari total 600 unit vape, satu unit telah digunakan oleh tersangka, sehingga yang berhasil disita berjumlah 599 unit,” ungkap AKBP Rafli.
Drug Courier dengan Pengalaman Sebelumnya
Dari hasil interogasi awal, terungkap bahwa ES bukanlah pelaku baru dalam dunia penyelundupan. Sebelumnya, ia pernah menjalankan tugas serupa, yaitu mengantarkan 50 unit vape narkoba ke kawasan Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang.
Dengan iming-iming imbalan yang besar, ia terjerat kembali dalam aksi ini, kali ini dengan jumlah yang lebih besar dan risiko yang lebih tinggi. “ES tertarik dengan prospek mendapatkan uang yang banyak dalam waktu singkat,” jelas Rafli.
Pihak kepolisian kini menggali informasi lebih dalam mengenai jaringan yang terlibat, termasuk peran orang-orang di balik layar, salah satunya seorang yang berinisial AL, diduga sebagai penggerak di balik aktivitas ilegal ini.
Imbas Penangkapan Terhadap Institusi Penjara dan Masyarakat
Penangkapan ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga menjatuhkan citra lembaga pemasyarakatan itu sendiri. Seharusnya, pegawai Lapas menjadi garda terdepan dalam memerangi narkoba, namun dengan terlibatnya pegawai dalam dugaan penyelundupan, membuat kepercayaan publik mulai goyah.
Kepolisian berkomitmen untuk mengusut tuntas kasus ini dan memastikan bahwa tidak ada celah bagi para pelaku narkoba. “Kita tidak akan berhenti hingga kita dapatkan semua yang terlibat dalam jaringan ini,” tegas Rafli.
Langkah ini diharapkan dapat memberikan efek jera bagi pelaku lainnya. Penegakan hukum yang tegas menjadi kunci dalam memberantas peredaran narkoba yang semakin meresahkan masyarakat.









