Istilah daycare sering kali dipahami sebagai ‘tempat penitipan anak’, tetapi makna ini seharusnya lebih mendalam. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menilai bahwa penamaan tersebut dapat menimbulkan kesalahpahaman mengenai peran penting lembaga pengasuhan anak dalam perkembangan mereka.
Ketua Unit Kerja Koordinator Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, Fitri Hartanto, menegaskan bahwa penggunaan istilah ‘penitipan’ kurang tepat. Menurutnya, istilah itu sebaiknya diganti dengan ‘tempat pengasuhan anak’ untuk menghindari stigma negatif.
Fitri menyampaikan pentingnya perspektif baru dalam memahami daycare, terutama dalam diskusi daring yang berlangsung baru-baru ini. Penggunaan kata “penitipan” seharusnya diperuntukkan bagi barang mati, bukan kepada anak yang memiliki kebutuhan emosional dan perkembangan yang kompleks.
Pentingnya Memahami Konsep Pengasuhan Anak Secara Menyeluruh
Fitri menjelaskan bahwa konsep daycare perlu dipahami sebagai lebih dari sekadar tempat menitipkan anak saat orang tua bekerja. Sebagai lembaga pengasuhan, daycare memiliki tanggung jawab besar dalam mendukung semua aspek perkembangan anak.
Pengasuhan yang berkualitas di daycare mampu memberikan stimulasi yang diperlukan untuk pertumbuhan fisik, emosional, dan sosial anak. Dengan demikian, peran daycare menjadi krusial dalam membentuk karakter dan kebiasaan positif anak sejak dini.
Dalam kegiatan sehari-harinya, lembaga ini seharusnya memiliki program yang dirancang khusus sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangan anak. Program tersebut meliputi kegiatan yang menjamin keamanan, komunikasi positif, dan alternatif pembelajaran yang menarik.
Peningkatan kesadaran masyarakat tentang peran daycare juga tercermin dalam meningkatnya permintaan akan kualitas pengasuhan. Terlebih dalam situasi yang memprihatinkan, di mana beberapa kasus kekerasan terungkap di lingkungan pengasuhan anak.
Rekomendasi untuk Perbaikan Sistem Pengawasan dan Regulasinya
IDAI juga menekankan pentingnya adanya regulasi yang lebih baik bagi lembaga pengasuhan anak. Pihak IDAI mendesak agar pengawasan tidak hanya terbatas pada aspek administratif, melainkan juga mencakup kualitas layanan secara menyeluruh.
Fitri mengajukan beberapa rekomendasi, termasuk perlunya penerapan audit berkala untuk menilai kualitas daycare. Ini akan memberikan transparansi yang dibutuhkan oleh masyarakat dan parent, sehingga mereka dapat memilih lembaga yang tepat.
Selain itu, modernisasi sistem perizinan melalui digitalisasi harus diimplementasikan untuk memudahkan pengawasan. Ini akan mempercepat alur informasi dan membuat data lebih mudah diakses oleh mereka yang berkepentingan.
Pemerintah juga perlu mempertimbangkan sistem pengawasan real-time yang memungkinkan pihak berwenang untuk memonitor operasional daycare secara langsung, sehingga upaya untuk menjaga keamanan dan kualitas layanan menjadi lebih efektif.
Pentingnya Keberadaan Orang Tua dalam Proses Pengasuhan
IDAI mengingatkan bahwa orang tua tetap menjadi pilar utama dalam menjaga keamanan anak. Orang tua diharapkan lebih cermat dalam memilih daycare, tidak hanya berdasarkan harga atau iklan menarik.
Ketua IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, menekankan bahwa kasus kekerasan di lingkungan daycare harus dilihat sebagai masalah serius yang memerlukan perhatian kita semua. Kita perlu aktif terlibat untuk memastikan setiap lembaga pengasuhan diawasi dengan benar.
Lebih lanjut, orang tua disarankan untuk selalu waspada terhadap tanda-tanda kekerasan, baik yang tampak secara fisik maupun yang tidak langsung. Misalnya, perubahan perilaku yang tidak biasa pada anak seperti penolakan untuk pergi ke daycare dapat menjadi indikator adanya masalah.
Pengamatan yang baik dari orang tua bisa menjadi kunci untuk mencegah potensi kekerasan dan membantu anak beradaptasi dengan baik di lingkungan pengasuhan. Oleh karena itu, keterlibatan orang tua dalam setiap aspek pengasuhan menjadi hal yang sangat penting bagi perkembangan anak.









