Sebelumnya, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemhan Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia mengatakan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin telah memerintahkan evaluasi menyeluruh terhadap program Latsarmil. “Atas arahan Menteri Pertahanan, penyelenggara telah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aspek kesehatan,” kata Ketut saat jumpa pers di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, Sabtu (27/6/2026).
Menurut Ketut, pemeriksaan kesehatan dilakukan secara menyeluruh untuk mengetahui kondisi fisik peserta. Selanjutnya, satuan TNI yang menjadi pelatih harus menyesuaikan porsi latihan fisik dengan kondisi masing-masing peserta.
Kemhan juga meminta penanganan medis terhadap peserta yang sakit dilakukan secara cepat dan maksimal. Selain aspek kesehatan, evaluasi juga dilakukan terhadap materi pembelajaran agar lebih adaptif, edukatif, serta memperhatikan kondisi psikologis peserta.
“Kegiatan juga diarahkan agar lebih adaptif, edukatif, dan memperhatikan kondisi psikologis peserta melalui metode pembelajaran yang membangun semangat kerja sama, problem solving, dan suasana yang lebih menggembirakan,” kata Ketut.
Pentingnya Evaluasi Program Pelatihan untuk Sumber Daya Manusia
Evaluasi program pelatihan menjadi sangat penting dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia di instansi pemerintah. Dengan evaluasi, bisa diketahui seberapa efektif suatu program dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Salah satu faktor utama yang harus dievaluasi adalah kesehatan peserta. Tanpa kondisi fisik yang optimal, efektivitas pelatihan dapat terhambat, membuat hasil yang diinginkan tidak tercapai. Aspek kesehatan mesti dijadikan prioritas utama dalam pengembangan program pelatihan.
Pemantauan kesehatan tidak hanya memperhatikan fisik, tetapi juga mental peserta. Kesejahteraan psikologis merupakan elemen krusial yang mempengaruhi kinerja dan motivasi peserta dalam mengikuti pelatihan. Keduanya berjalan beriringan, dan harus dijaga secara seimbang.
Membangun Metode Pembelajaran yang Adaptif dan Edukatif
Pentingnya mengembangkan metode pembelajaran yang lebih adaptif menjadi salah satu arahan Kemhan. Metode yang digunakan harus mampu menjawab kebutuhan peserta sekaligus mampu mendorong dinamika kelompok dalam program pelatihan.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah pembelajaran kolaboratif. Dengan metode ini, peserta akan diajarkan untuk bekerja sama, berbagi pengetahuan, dan menyelesaikan masalah secara kolektif. Hal ini akan menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan dan produktif.
Melibatkan peserta dalam proses pengambilan keputusan selama pelatihan juga perlu dilakukan. Ketika peserta merasa bahwa suara mereka didengar, mereka cenderung lebih antusias dan aktif berpartisipasi, yang tentunya berdampak positif pada hasil pelatihan.
Menangani Peserta yang Mengalami Masalah Kesehatan
Penanganan peserta yang mengalami masalah kesehatan harus dilakukan dengan cepat dan efektif. Tim medis yang bertugas di lokasi ketahanan fisik perlu memiliki pelatihan yang cukup untuk menangani berbagai kondisi kesehatan darurat.
Dalam hal ini, harus ada sistem komunikasi yang baik antara pelatih, peserta, dan tim medis. Jika terjadi kecelakaan atau masalah kesehatan lainnya, respons cepat sangat bergantung pada seberapa baik komunikasi dijalankan.
Memberikan informasi tentang pentingnya menjaga kesehatan kepada peserta juga menjadi langkah yang tidak boleh dilupakan. Edukasi tentang gaya hidup sehat, termasuk pola makan dan istirahat yang cukup, akan membantu peserta menjaga kondisi fisik mereka selama pelatihan.








